Langsung ke konten utama

jurnal harian 1

19 Maret 2021

Halo, ku putuskan untuk kembali ke sini untuk menceritakan semuanya, toh tak akan ada juga yang akan membaca. Setidaknya begitu pikirku.

Pukul 20.45 malam, sudah hampir 4 jam aku duduk di depan oven besar pemberian ibuku. Wajahku sudah memerah menahan panas bakaran oven yang sejak tadi tiada henti.

Kalau difikir-fikir, sudah lama aku berkutat seperti ini. Dua puluh empat tahun, cukup lama jika dihabiskan dengan rutinitas yang begitu-begitu saja. Hampir seluruh waktuku berkutat di itu-itu saja, jika bukan belajar, ya membantu kesibukan orangtuaku. Itu-itu saja sampai-sampai aku bosan. Memberontak? Seperti sudah bosan juga. 

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

10 Juni 2026

Siapa sangka draf ini akan ku buka lagi 5 Tahun kemudian.


ku baca kembali, diresapi kembali, kembali ke waktu itu, kaya pas nulis tulisan di atas 5 tahun lalu itu keknya w mulai mengalami pergeseran fase dari remaja (at least that is how i felt back then lol) ke fase dewasa yang udah harus bertanggung jawab sama dirinya sendiri.

waktu itu berasa tiap hari anxiety goes to  the roof and less less joy (reminds me on a dialog in Inside out 2). di fase itu berasa banget lagi di neraka. berasa belum punya power atas diri sendiri yang cukup, belum bisa membuat boundaries atas diriku sendiri, dan sangat-sangat gak sabaran banget dengan keadaan. Merasa saat itu no body understands me and indeed it felt so frustrated (poor little inun).

Tapi diri guweh di 2026 kalau bisa bertemu dengan little Ainun di 2021, pengen banget meluk dia dan bilang ke dia kalau "you're safe, you're loved, you'll be just fine, it will pass kok". w juga pengen berterima kasih ke dia karena dia walaupun dengan segala kebingungannya tetap mau berusaha maju, berusaha bergerak, dan menolong dirinya juga oranglain.

dan w juga merasa bersyukur, melalui itu semua as cannon event yang menshapping w dengan pola pikir dan takdir seperti sekarang. 

w yang sekarang mengerti bahwa having a problem is totally normal. It would shape me to understand how to communicate, how to understand and regulated my own emotions towards it, understand about everyone's pov to understand the problem better. dari itu semua juga mulai bisa belajar memahami is is okay to have different pov and perspective and i'm the one to need to give myself validation and closure. i'm enough.



























Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ruginya Merawat Orangtua

Beberapa orang mungkin kehilangan banyak kesempatan karena harus merawat dan menemani orangtua mereka. Dulu, saya mikirnya ini merugikan. Sampai akhirnya saya menyadari, bahwa rugi dan untung bukan hanya persoalan materi.⁣ ⁣ Ada nilai-nilai kebaikan lain yang bisa dikatakan sebagai untung yang besar ketika harus menemani orangtua. Secara cliche tentu saja, pahala; walaupun tidak semua orang berorientasi kepada nilai pahala itu sendiri. Tetapi kita juga bisa melihat dari sisi yang lain. Yaitu bisa mengenal lebih dekat dan sedikit demi sedikit bisa membalas kebaikan yang mereka berikan kepada kita sejak kecil. Walaupun sebenarnya kita tidak akan pernah cukup membalas kebaikan mereka.⁣ ⁣ Benar, adalah kewajiban orangtua untuk merawat dan menyayangi anak-anaknya tanpa imbalan apapun. Tetapi, saya pun yakin, sebagai seorang anak, menyayangi orangtua dan menolong mereka tidak pernah terhitung merugikan. Simpelnya, atas pengalaman pribadi dan oranglain. Banyak kebaikan dan kabar baik yang mun...

Lembah Napu | Family Trip Part 2

Di Hutan Pinus. Assalamualaikum semua!      Liburan telah berlalu, tapi perasaan liburan itu masih saja menghantui, padahal harus kembali ke rutinitas awal, nyusun skripsi lagi, kerja lagi, mikir lagi hahaha. Emang susah banget yah move on dari liburan itu, enak aja gitu liburan jalan-jalan menyegarkan mata juga fikiran. Pokoknya kalau lagi liburan, penat di kepala tuh kaya hilang menguap gitu aja. Ada yang pernah ngerasakan hal yang sama gak? Atau cuman saya doang yah yang suka kaya gitu? Hahahaha.      Kembali bahas liburan, seperti janji saya di postingan yang sebelumnya, kali ini saya bakalan bahas soal tempat-tempat liburan kemarin. Tempat pertama yang saya kunjungi itu  hamparan Padang Rumput di sepanjang jalan Trans Poso, Napu. Padang rumput ini jaraknya sekitar 30 menit dari desa Mekar Sari kalau naik mobil. Sebelum sampai ke padang rumput, kita melewati kebun-kebun warga. Ada kebun sayur, kebun ubi, jagung, dan masih banyak la...

Lembah Napu | Family Trip Part 1

Sudahkah kamu liburan bulan ini? Di Padang Rumput Jln. Trans Poso, Napu. Finally! setelah setahun qerja qeras bagai quda, akhirnya lebaran kali ini mama ngajak liburan ke Napu sekeluarga. Liburan kali ini super duper fun! Karena liburan kali bener-bener family trip, jadi orangtua, kakak, sepupumu sampai si budepun ikut liburan. Sabtu subuh kita udah siap-siap buat pergi, sarapan bareng, haha hihi sebentar, jemput sepupu, pas jam 07.00 Wita cus kita sekeluarga langsung berangkat ke Napu 2 mobil (sungguh keluarga yang sangat besar). Perjalanan Palu Napu di tempuh -+ 4 jam f naik mobil. Selama -+4 jam perjalanan kerasa kaya cuman 40 menit doang! Karena sepanjang perjalanan ngakak mulu bareng sepupu-sepupu yang udah kaya pelawak semua.   "Ke Napu tuh lewat mana sih Nun?"   Okey, daerah Napu itu termasuk bagian dari Kabupaten Poso, jadi perjalanan ke Napu itu kamu bisa lewati dari arah Sigi Biromaru terus-terus ke arah Palolo, melewati daerah Danau Tambing, terus ...